mirza.ap08'sblog

mencari dan memberi yang terbaik

20
Jun
2010

proteksi tanaman

by mirza.ap08

PENGARUH BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DAN CABAI BESAR PADA LAHAN LEBAK

Lahan lebak merupakan lahan yang rendah bahan organik tanah dan unsur hara NPK. Tanah-tanah mineral di lahan lebak umumnya masam, sedangkan pemanfaatan bahan organik untuk memperbaiki lahan pertanian tersebut kurang diperhatikan petani. Salah satu cara dengan penambahan bahan organik yang banyak tersedia di lapangan yaitu dengan memanfaatkan pupuk kandang sapi. Upaya ini dilakukan agar peningkatkan produktivitas tanah pertanian memberikan hasil yang memuaskan. Penambahan bahan organik ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, meningatkan KTK, serapan hara dan menekan aktivitas Al 3+ dan Fe 3+ yang mengikat fosfor. Bahan organik yang dibenamkan ke tanah diuraikan jasad mikro menjadi senyawa sederhana dan bahan baru. Dekomposisi bahan organik cenderung meningkatkan pH tanah, menyediakan hara tanaman, meningkatkan agregasi tanah dan memperbaiki sifat fisik serta mengurangi kepekaan tanah terhadap erosi. Percobaan telah dilaksanakan pada lahan lebak di kebun percobaan Banjarbaru KalSel pada MK 2008. Pada lahan lebak dengan sistem surjan, dimana pada guludan ditanam tanaman cabai besar dan sawah atau tabukan ditanam padi. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan 4 ulangan, masing-masing dengan tanaman indikator padi dan cabai besar. Takaran bahan organik yang diberikan adalah 0; 2,5 t/ha dan 5,0 t/ha. Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan organik pupuk kandang sapi terhadap hasil tanaman padi dan sayuran cabai besar di lahan lebak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian bahan organik pupuk kandang sapi dapat meningkatkan jumlah anakan dan hasil padi serta hasil cabai besar. Selain itu dapat menekan aluminium yang dapat meracuni tanaman padi. Hasil padi tertinggi 4,30 t/ha dan hasil cabai besar sebesar 12,10 t/ha dicapai pada pemberian pupuk kandang sapi 2,5 t/ha. Pemberian bahan organik merupakan suatu cara yang harus dilakukan dalam peningkatan produktivitas tanah-tanah masam. Pelapokan bahan organik pupuk kandang sapi dengan C/N rasio rendah berlangsung lebih cepat dibanding yang C/N rasionya tinggi. Pelapukan bahan organik pada gilirannya akan menyediakan unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sebab itu bahan organik disebut sebagai gudang hara. Unsur-unsur hara tersebut tersedia setelah melalui proses pelapokan fisik dan kimia yang memerlukan waktu cukup lama. Maka pelepasan hara yang terjadi akan berlangsung perlahan (“slow release”) selama pertum­buhan tanaman semusim. Pelepasan hara yang berlangsung “slow release” tersebut menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman semusim, karena ketersediaan hara yang sinambung selama pertumbuhan. Ini merupakan salah satu alasan responnya tanaman padi dan cabai besar terha­dap pemberian bahan organik pupuk kandang sapi.

20
Jun
2010

proteksi tanaman

by mirza.ap08

ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

Serangga (disebut pula Insecta, dibaca “insekta”) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam. Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Secara morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian utama yaitu  kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen. Caput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. (roger. 1972)

Antena serangga berjumlah dua atau sepasang, berupa alat tambahan yang beruas-ruas dan berpori yang berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena adalah antenifer, soket, scape, pedicel, meriston, dan flagelum. Bentuk antena serangga sangat bervariasi berdasarkan jenis dan stadiumnya. Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 µm. Serangga makan dengan menggunakan mulutnya. Ada beberapa tipe alat mulut serangga, yaitu: penggigit-pengunyah, penggigit-pengisap, penusuk-pengisap, pemarut-pengisap, pengait-pengisap, pencecap-pengisap, dan pengisap. Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Torak serangga terdiri dari tiga ruas yaitu protorak, mesotorak, dan metatorak. Pada torak  serangga terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura tidak bersayap). Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran disebut pleura. (Doutt. 1973)

Perhatian terhadap cara mengantisipasi adanya hama pada ekosistem pertanian sangat dibutuhkan. Namun kurang baik jika harus mengendalikan hama dengan menggunakan pestisida kimia, karena penggunaan pestisida kimia memiliki dampak negatif untuk lingkungan, terkait residu dan polutan keseimbangan ekosistem tetap terjaga dan tetap seimbang. Bahan kimia dapat merusak keseimbangan ekosistem di alam. Pada dasarnya, penggunaan pestisida modern tidak memberi kepuasan dari sudut pandang permasalahan ekologis, hanya mengkerucut pada efek waktu yang cepat untuk mengendalikan target. Jadi, selain pencegahan secara konvensional, teknologi pengolahan hama terpadu haruslah menjadi prioritas. Penggunaan metode non-kimia ini berpusat pada teknologi ekologi dan pertanian modern. Misalnya metode biologis, fisik, mekanik dan hormon pengendali.

Metode pengendalian biologis fokus terhadap bagaimana untuk meningkatkan kwantitas musuh alami (parasits dan predator). Bisa juga dengan pemanfaatan bioteknologi dengan menggunakan mikrobiologi produk (bacterians, virotics, fungical, dll). Metode pengendalian hama secara fisik yaitu dengan modifikasi faktor-faktor lingkungan (suhu, kelembaban, cahaya), penggunaan visual atau perangkap optik; pelengket berwarna panel; piring berwarna; USG generator; listrik frekuensi tinggi dan medan elektromagnetik; radiasi emisi (X, UV, dll). Metode mekanis lebih kepada adanya perangkat dan alat yang digunakan dalam mencegah hama dan bagaimana memanfaatkan perangkat tersebut dengan optimal. Sedang hormon pengendali berhubungan dengan bioteknologi. Yaitu bagaimana menciptakan produk monocular farming.

Sticky trap adalah kertas biasa, karton atau material lainnya yang permukaannya ditutupi lem. Bentuknya bisa datar, segitiga, seperti kotak atau seperti pita yang menggantung (untuk serangga terbang). Informasi yang didapat dengan pemasangan sticky trap ini adalah : Jenis hama, Letak hama berada, kecenderungan masalah hama, menentukan tindakan pengendalian yang tepat.

20
Jun
2010

about proteksi tanaman

by mirza.ap08

Tikus dan Kelebihannya

Diperkirakan sekitar 150 spesies dan sub spesies tikus terdapat di seluruh Indonesia. Setiap jenis menghuni habitat yang cocok dengan kebutuhan hidup masing-masing, termasuk lingkungan yang diciptakan manusia seperti halnya daerah pertanian dari jumlah tersebut, ada sepuluh jenis yang mempunyai potensi merugikan antara lain Rattus argentiventer Rob & kloss, Rattus exulans Peale, dan Banduicota indica Berkenhout yang banyak dijumpai di sawah dan kebun atau perkarangan ( Sukarna dalam Soenarjo, 1991: h.757)

Dalam taksonomi tikus sawah (Rattus argentiventer Rob & kloss) diuraikan sebagai berikut Filum cholrdata, Subfilum Vertebrata (carniata), Kelas Mamalia Subklas Theria, Infra kelas Eutheria, Ordo Rodentia, Famili Muridae, sub famili Murinae Genus Rattus, dan Spesies Rattus argentiventer Robinson & Kloss ( Priyambodo :1997 h. 5-6)

Ciri-ciri fisik Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) dapat dikenal melalui susunan giginya yakni Sepasang gigi seri rahang bagian depan berfungsi sebagai pengerat. Di belakangnya terdapat celah tanpa gigi taring dan premolar (diastema). Di bagian paling belakang terdapat tiga pasang graham. (Boeadi dalam Soenarjo 1991: h. 752)

Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) memiliki Warna bulu bagian atas coklat gelap, bagian bawah atau bagian perut kelabu. Telinga tidak berambut. ekor bersisik yang panjangnya lebih pendek atau hampir sama dengan panjang kepala dan badan. Kaki depan berjari empat dan kaki belakang berjari lima. Pada telapak kaki belakang terdapat tiga pasang buku kepalan, dua di antaranya terlihat jelas dan yang satu bagian belahan belakang rudimenter. (Tjoa tjin mo dalam dalam Soenarjo, 1991: p.752)

Tikus betina mempunyai enam pasang kelenjar susu, yaitu tiga pasang di bagian dada (pektoral) dan tiga pasang di bagian perut (inguinal). Tikus dewasa beratnya berkisar antara 70-230 g. Panjang tubuh dari moncong hidung sampai ujung ekor berkisar antara 130-210 mm. Panjang telinga antara 20-22 mm. Telapak kaki belakang panjangnya berkisar antara 32-39 mm dam lebar gigi seri 3 mm. (Rohman dalam Soenarjo, 1991: p.754 )

Tempat tinggal dan tingkah laku tikus

Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) termasuk binatang yang aktif pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari mereka berlindung di dalam lubang atau semak. Tempat tinggal Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) biasanya di habitat yang cukup memberi perlindungan dan rasa aman terhadap serangan predator, di samping itu tempat tinggal yang cukup tersedia makanan dan berdekatan dengan sumber air. Lubang bagi tikus berfungsi sebagai tempat berlindung, memelihara anak dan anggota kelompoknya, serta sebagai tempat menimbun makanan. Di tempat tinggalnya bila anggota keloponya bertambah, maka jaringan lubang pun akan makin luas.

Rangkaian lubang Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) itu selalu tersedia/yang berfungsi sebagai lubang darurat yang ujungnya tertutup, (biasanya ditutup rumput atau semak ) menghadap keluar penutup lubang tikus masih utuh, kira-kira 1-2 cm pintu ini akan dibuka dalam keadaan dalurat. Sementara kedalaman lubang berkisar antara 30 -150 cm dengan panjangnya dapat mencapai 10 m dengan diameter 10 cm.Good, van der dalam Soenarjo, 1991: p.754)

Tikus sawah (Rattus argentiventer Robinson & Kloss) selalu menghuni lubangnya. Pada saat kekurangan makanan atau terjadi banjir, lubang tikus tersebut akan ditinggalkan. Misalnya, pada saat sawah bera yakni ketika priode pengolahaan tanah, atau tanam. Tikus biasanya memgembara ke daerah sekitar sawah, seperti tanggul irigasi, pekarangan, di sekitar lumbung padi, kebun tebu, rumpun bambu atau nipah, semak belukar, perkebunan atau tegelan yang permukaan tanahnya agak tinggi.

Menurut Good, van der ,P, ada saat padi berumur satu bulan hanya 25% dari lubang tikus yang masih dihuni. Apabila daun padi telah rimbun atau telah bunting, maka secara bertahap tikus berdatangan menghuni lubangnya di pamatang sawah (Soenarjo dkk, 1991: 754)

Makanan
Tikus sebagai hewan omnivora (pemakan segala) biasanya mengkomsumsi semua jenis makanan yang dapat dimakan manusia, baik yang berasal dari tumbuh- tumbuhan maupun yang berasal dari hewan. Variasi makan tikus dapat dijumpai di sawah seperti padi, ubi-ubian, kacang-kacangan, berbagai jenis rumput (rumput teki), serangga, ketam, siput,. dan ikan kecil. Karena tikus sawah dianggap memiliki daya adaptasi yang tangguh terhadap lingkungan, maka tikus tersebut cenderung memilih makanan yang paling disukainya, saat sumber makan berlimpah (Budiyanto, Soenardi, dan Soenarjdo dalam Soenarjo, 1991: p.754)

Alat Indra Tikus

Seperti jenis hewan lainya, tikus memiliki kemampuan indra yang menunjang setiap aktifitas kehidupannya. Menurut Brooks dan Rowe(Soenarjo, 1991: p 758), alat indra tikus terdiri dari alat indra penciuman, peraba, pendengaran, penglihatan dan perasa/pengecap. Di antara kelima alat indranya, hanya indra penglihatan yang berkembang kurang baik. Tetapi, kekurangan itu ditutupi oleh keempat indra lainnya yang berkembang sangat baik.

Indra Penciuman

Kemampuan penciuman tikus sangat tajam, terutama untuk mengenal lingkungan dan menghindari diri dari bahaya. Dengan mengerak-gerakan kepalanya pada waktu berjalan, seekor tikus akan dapat mendeteksi bekas jejak tikus yang lain, bau badan (odol), air seni, atau tinja yang ditinggalkan sepanjang jalur jalan merupakan alat komunikasi di antara sesama tikus. Dengan penciuman yang tajam tikus dapat membedakan antara kawan atau lawan jenisnya, antara anggota kelompok atau musuh. Demikian pula tikus yang sedang birahi dapat mendapatkan pasangannya (Vincent dalam Soenarjo, 1991: p. 759).

Indra Praba

Kumis, alis mata (vibrissae), dan rambut panjang di antara bulu-bulu halus di seluruh tubuh merupakan alat indra praba tikus. Dengan indra tersebut, tikus dapat berjalan pada malam hari (di tempat gelap) dan memiliki kemampuan mengenali bahaya yang sedang dihadapinya. Selama dalam perjalan, indra peraba selalu bersentuhan dengan benda-benda di sekitar tubuhnya. Tikus memiliki kebiasaan yang selalu menyentuh benda yang tegak lurus. Apabila dalam perjalanan atau penjelajahan tikus merasa aman dari gangguan, maka dia akan mengulangi perjalanan atau penjelajahan pada tempat yang sama. Seringnya tikus berjalan pada jalur yang sama akan membetuk jalur jalan yang disebut runway. Jalur jalan ini mudah dikenali dan akan membantu usaha pengendalian (Okon dalam Soenarjo, 1991: h. 759).

Indra pendengaran

Indra pendengaran tikus dapat menangkap getaran suara di luar jangkauan pendengaran manusia, getaran suara ultra hingga 100 kHZ dengan respon yang paling baik pada 40 kHZ. Tikus juga tanggap terhadap bunyi gertak, sehingga dapat menghindar diri dari bahaya. Selain dapat menerima, tikus juga dapat mengelu